Saya bukannya mau bagi-bagi buku gratis di sini, melainkan mau cerita tentang sesuatu yang saya temukan lewat blog-nya Blanche.
Saya pribadi jarang-jarang ketemu orang yang dengan senang hati mau ngasih buku gratis. Tapi di Baltimore, Amerika Serikat, ada suatu tempat di mana orang-orang bisa ngambil buku apa pun sesuka mereka (GRATIS), asalkan janji gak akan menjual kembali buku bersangkutan.
Baik, yah
Klik di sini untuk link tempat yang amat sangat murah hati tersebut.
—Diar
NB: ada juga sedikit buku gratis (kecuali ongkos kirim) di Buku Tilas
Berbagi
Tags: hal kecil menginspirasi
A well-spent day brings a happy sleep.
—Leonardo da Vinci
Saya pertama kali dengar kata-kata da Vinci tersebut dari Oprah Winfrey (kayaknya dia hafal banyak kata mutiara dari berbagai tokoh) dan beberapa waktu lalu saya kirimkan lewat SMS ke seseorang yang belum lama ini berulang tahun.
Kenapa saya merasa perlu mengirimkan kata mutiara di atas, padahal biasanya orang mengucapkan selamat ulang tahun disertai doa atau kalaupun ada kata mutiara, pasti yang berhubungan dengan umur atau sejenisnya? Jawabannya sederhana: karena saya berharap apa yang diucapkan da Vinci betul-betul terjadi di hari bahagianya itu.
Saya masih sangat ingat, dulu sekali, kalau jelang ulang tahun, saya akan sibuk memikirkan (mengkhayalkan, tepatnya) “kira-kira siapa ya yang akan mengucapkan selamat lebih dulu…”, “siapa ya yang akan memberikan kado…”, dan hal-hal ‘gak penting’ lainnya.
Lama-lama saya sadar, di hari istimewa saya, sebenarnya saya gak butuh apa pun selain saya merasa bahwa itu adalah ‘hari saya’. Punya keinginan dapat kado atau apa lah ya sah aja, tapi saya rasa bukan itu yang betul-betul dibutuhkan saat sedang berulang tahun.
Dengan berjalannya hari itu dengan baik (matahari masih terbit, angin masih berhembus, saya masih menghirup udara sehat… apalagi yang saya mau…?), maka saat tidur pun di malam harinya saya mungkin akan tidur sambil tersenyum
—Diar
Berbagi
Tags: hal kecil menginspirasi
Buat yang jarang mindahin saluran televisinya ke TVRI, mungkin juga jarang lihat iklan layanan masyarakat yang satu ini: di mana digambarkan seorang wanita kaya (diperankan oleh Ida Kusuma) dengan mobil sedan mewah beberapa kali membuang sampah tissue-nya sembarangan (yang katanya kebiasaan dia). Ada satu wanita lagi (diperankan Lula Kamal) yang bersama anak perempuannya menunjukkan ke Bu Ida bahwa warga tempat tinggal mereka kini sudah mulai memilah sampah, dengan kamera menyorot dua kaleng sampah berbeda warna untuk jenis-jenis sampah yang berbeda pula. Setelah Bu Ida berlalu dengan mobil menterengnya, si anak bertanya (atau mengejek, tepatnya), kenapa orang kaya justru buang sampah sembarangan.
Jawaban Bu Lula Kamal yang saya rasa (harusnya) bisa menyindir kita semua secara konstruktif, bahwa:
buang sampah bukan soal miskin atau kaya, tapi soal mental dan budaya.
Mungkin kita gak usah jauh-jauh melontarkan komentar ke Pemerintah Daerah kita, misalnya.
Untuk sementara ini, cukup kita melontarkan komentar pada diri kita sendiri dulu.
—Diar
Berbagi
Tags: alam menginspirasi

[sumber foto: situs resmi Eternal Reefs]Â
Salut buat Metro TV yang semakin menambah tayangan-tayangan ‘hijau’. Dan bukan sekadar ‘menempelkan’ tayangan dari luar, tetapi juga membuat tayangan yang diproduksi sendiri (in-house production) yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan bangsa.
Satu tayangan luar yang bagus (banget) adalah Big Ideas for A Small Planet.
Beberapa waktu lalu ada satu ide baru (yang udah bertahun-tahun dijalankan) yang dikemukakan oleh seorang pria (yang saya lupa namanya) di Fort Lauderdale, Florida.
Setelah melihat banyak terumbu karang di daerahnya yang rusak setelah dipengaruhi oleh pemanasan yang terjadi dan hal itu mengganggu ekosistem laut (menurut data tayangan tersebut, 20% terumbu karang di dunia sudah hancur, 50% rusak berat, dan hanya 30% yang masih sehat), maka muncullah Eternal Reefs yang membuat terumbu karang buatan yang bentuk dan fungsinya dipikirkan betul agar menyerupai terumbu karang alami.
Bahannya? Ini sebenarnya yang bikin saya bertanya-tanya: beton yang dicampur dengan abu hasil mayat yang dikremasi.
Sekarang ini semakin banyak orang Amerika yang sebelum meninggal berpesan agar ia dikremasi dan makamnya dibentuk menjadi terumbu karang. Dan udah sekitar 200.000 terumbu karang yang dihasilkan oleh Eternal Reefs yang hingga kini turut melancarkan ekosistem laut di sana.
Memang mulia banget jika orang yang sudah meninggal masih bisa meninggalkan manfaat bagi alam.
Tapi ini soal kremasi; karena saya buta soal ini, bisa ada yang jawab gak, apa Islam membolehkan mayat dikremasi, biarpun itu untuk tujuan baik seperti tersebut di atas?
—Diar
Berbagi
Tags: alam menginspirasi

[sumber foto:Â situs Oprah.Com]
Di The Oprah Winfrey Show beberapa waktu lalu, ada pembahasan tentang boneka yang sedang cukup digemari anak-anak perempuan Amerika Serikat. Bukan Barbie pastinya, melainkan boneka American Girl. Sesuai dengan sasaran utamanya, yaitu anak-anak perempuan usia 8-12 tahun, maka penampilan boneka ini pun agak kecil, wajahnya menyerupai anak kecil, dan pakaiannya ya layaknya yang (harusnya) dikenakan anak kecil pula.
Di toko boneka tersebut ada juga salon boneka, di mana anak-anak pemilik boneka bisa sekalian belajar bagaimana cara mempercantik bonekanya. Bahkan ada rumah sakit boneka pula!
Tapi yang paling hebat dari boneka ini (selain wajah bonekanya yang, sumpah, manis banget!) sebenarnya adalah misinya, yaitu menumbuhkan minat baca sejak dini pada anak-anak (perempuan). Makanya, setiap boneka punya nama sendiri dengan kisah tersendiri yang dibukukan (mulai dari anak perempuan tahun 1970-an ataupun tahun-tahun sebelumnya, sampai anak perempuan zaman sekarang, tetapi yang pasti kisahnya menginspirasi). Masing-masing boneka udah satu paket sama bukunya, jadi anak-anak bisa main boneka sambil belajar dari bukunya. Hal tersebut bisa turut mempererat hubungan ibu-anak (bayangkan diskusi cerdas macam apa yang bisa muncul dari kedua generasi itu).
Bukankah ini suatu terobosan yang dapat berkontribusi mencerdaskan anak perempuan? Kalau di Indonesia ada produk boneka sejenis American Girl, bayangkan berbagai kemungkinan pengaruh positif yang akan terlihat.
Jujur, saya paling sebel sama anak (perempuan) yang gaya pakaiannya kayak perempuan remaja atau bahkan dewasa; yang lebih memilih menyanyikan lagu-lagu orang dewasa; yang suka banget mantengin sinetron-sinetron tak berujung di televisi; yang (juga) bisa jadi tukang belanja (saya pernah liat beberapa anak perempuan di sebuah pertokoan di mal—dompetnya lebih bagus dari dompet saya, dan isi dompetnya bahkan lebih banyak dari isi dompet saya!); dan yang kalo main boneka bakal lebih sibuk mikirin penampilan bonekanya.
Yang jelas, gak pada tempatnya juga kalo kemudian saya nyalahin anak-anak itu, melainkan mempertanyakan kenapa produsen pakaian anak banyak yang lebih memilih merancang gaya dewasa pada produknya; kenapa lagu-lagu anak gak dipopulerkan lagi atau gak lagi dibuat (zaman saya kecil, saya lebih kenal lagu dan penyanyi cilik daripada lagu orang dewasa—bahkan saya masih ingat dateng ke konser Enno Lerian, bukan konser penyanyi dewasa); kenapa gak ada sinetron yang menokohkan seorang anak yang cerdas dan bukannya sok dewasa; kenapa para orang tua gampang-gampang aja ngasih (banyak) uang saku ke anak dan membiarkan mereka jadi konsumtif; kenapa gak ada boneka yang dibuat bersahaja; dan terutama, kenapa para orang tua membiarkan media massa mempengaruhi otak anak-anak mereka dengan semua hal tersebut.
—Diar
Berbagi
Tags: hal kecil menginspirasi